"haduuuh, kenapa sama mereka berdua siiih?" isak Anna yang bertambah
sedih sehabis dimarahi oleh guru matematika begitu mengetahui bahwa
teman sekelompoknya adalah cowok yang dibenci dan cowok yang dia takuti
"maaf" ucap Rikka, "habisnya gurunya pilih kasih sih" lanjutnya
"bukannya karna kamu pendek?"
"huh, badan itu tidak mempengaruhi kinerja otak" sanggah Rikka
"Anu,
halo~" ucap Melody, "terus kita mau bikin tugasnya bentuknya gimana
nih? mau bkin sculpture tanah liat, atau bikin dari chlorofoam?
bentuknya mau apa?"
Melody adalah ketua kelas, ketua kelas yang bayangannya tipis karena Anna jauh lebih mencolok di kelas.
"hm, enaknya yang bagaimana ya?ada ide?" tanya Rikka
"gimana kalo kita bikin figurenya Anna?" celetuk Doni
"hah?maksudnya?kenapa harus figureku?"
"habis, Anna kan......" jawab Doni sambil melihat anna dengan malu-malu.
ya,
Doni, ketua OSIS yang ditunjuk melalui pemilu, wajahnya cukup lumayan,
cukup pintar, pandai bergaul, dan sangat menyukai Anna, tapi menurut
Anna, Doni yang 'seperti itu' masih belum cukup untuk Anna yang
menurutnya sendiri ia berselrea tinggi.
"gak mau, Rikka, gimana kalau
kita bikin vas bunga aja? kan manis tuh, kita bisa bebas ngehiasnya
sesuai sama keinginan kita, bisa pakai glitter, mutiara imitasi yang
bling-bling" rayu Anna
"pfft" cetuk Riza
cetukan Riza langsung membuat Anna terdiam, dan membuat anggota kelompok Rikka terdiam
"kalau kamu?ada ide?" tanya Rikka
"terserah aja" jawab Riza dingin
"hum~kalau terserah, berarti usul Anna dimasukkan ya~ga masalah kan?" tanya Rikka sambil menggoda Riza
"HAAAAh?" jawabnya ketus sambil melotot ke arah Rikka
"apa? mau usul apa?" tanya Rikka tenang
"........."
melihat ke arah Rikka "ah, jangan itu, yang lain aja" jawabnya menyerah
setelah melihat ekspresi Rikka yang tersenyum manis
"oke" lanjutnya "usulku, gimana untuk kerajinan tangan kita buat boneka mini aja?"
"boneka? emangnya kita anak sd?" jawab Melody yangtidak suka akan usul Rikka
"jadi,
boneka nya kita buat model yang manis, atau zombie sekalian, nah
hiasannya kan bisa macam-macam, mulai dari yang manis hingga yang
gothic" lanjut Rikka
"ah, harajuku doll style?" tanya Riza sambil sedikit tertawa
"yap" jawab Rikka bangga
Anna bangun dari tempat duduknya dan mengelus kepala Rikka "aah, boleh-boleh,,bikin yang manis ya Rikka~~~"
"itu kalo yang lain setuju" jawab Rikka
"Aku sih oke aja kalau Anna suka" jawab Doni
"uhm, asal jangan terkesan kayak anak kecil ya"
"terserah"
Rikka mengeluarkan secarik kertas dan mulai mendesign boneka yang ada dalam kepalanya
"Lucuuuu" ucap Melody dan Anna bersamaan begitu melihat hasil akhir design Rikka
"untuk hiasannya, bisa Anna yang buat, kamu kan jago untuk urusan itu"
"oke, bakal aku buat semanis mungkin!" ucap Anna tertantang
"kalo gitu aku buat topinya ya" jawab Melody
Rikka melihat kedua anak lelaki di kelompoknya dan bertanya "gimana?"
"bagus, tugasku apa?" jawab Doni. Rikka menjelaskan beberapa detil di boneka yang bisa Doni kerjakan
kemudian Rikka berpaling ke arah Riza dan berkata "kamu bisa apa?"
Riza menatap Rikka dan berkata "kasih uang" lalu pergi meninggalkan kelompok itu
"ih~gak sopan, udah Rikka dia gak usah kita ajak aja, nyeremin" ucap Anna
"Hmm" Rikka menatap punggung Riza dan dia berkata "dia aneh"
"apanya?" tanya melody
Rikka
berbalik menatap Melody, tersenyum dan berkata "wanita yang baik tidak
akan menceritakan hal yang tidak ingin orang lain ceritakan" dengan
nakal. "yuk kita kerjakan" ajaknya.
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Tuesday, 19 June 2012
Flower's drop, prologue
"Rikka!! Rikka, kamu disini?" panggil Anna sambil setengah berlari
mencari Rikka di pojok ruang perpustakaan sekolah, tempat Rikka biasa
duduk sambil membaca novel misteri kesukaannya.
"Apa sih?!" Tanya Rikka dengan ketus karena merasa terganggu atas panggilan Anna
"Itu lho, pe-er matematika, kan aku mau nyontek-eh-mau minta di ajarin soal pe-ernya, kan matematika habis istirahat, tadi pagi kan kamu janji mau kasih tau aku" jawab Anna
"eee~h? kenapa gak dari tadi sih?nyusahin amat" hela Rikka
"Ayolah~~nanti aku traktir eskrim deh" bujuknya
"........, tapi jangan yang 3 ribuan ya"
"iya, beres, kubeliin yang harga 5 ribu deh"
"oke"
Rikka dan Anna pun berjalan menuju kelas menyusuri lorong sekolah yang hijau, nyaman dan "BUAKK!" sebuah bola melayang ke kepala Rikka dan menghempaskannya jatuh ke arah kiri, dan membuat Anna yang berada di sebelahnya panik
"Eh, Sori, lw gapapa?" tanya seorang anak cowok yang mendekati mereka berdua
dengan tangan yang masih memegang bagian samping kanan kepalanya Rikka berkata "kayaknya pertanyaanmu itu bisa dijawab dengan ngeliat kepalaku aja deh" ketus
"Eh, Sori" ujarnya sambil mengambil bola "badan lw kecil sih, jadi gak keliatan"
"Ih, gak sopan!" tegur Anna
dengan tangan yang masih mengusap-usap kepalanya, Rikka berkata "ke kelas aja yuk, biar Tuhan yang membalas!"
Rikka berjalan dengan cepat yang kemudian disusul Anna meninggalkan anak cowok yang kesal dengan perkataan Rikka, ya, tubuh Rikka memang kecil untuk anak seumurannya, tingginya tidak mencapai 150cm, tubuhnya kurus ramping, tangan dan kakinya mungil dengan rambut sebahu yang dihiasi pita berwarna merah membuatnya terlihat seperti anak kelas 4 sd, berbeda dengan umurnya yang kini menginjak kelas 2 SMA.
berbeda dengan sahabat Rikka, Anna, dia nampak seperti anak SMA pada umumnya yang suka berdandan, shopping dan segala macam bentuk ke-gaul-an yang dipandang Rikka sebagai sifat yang sangat boros dan mengarah ke kehidupan hedonisme.
"masih sakit?" tanya Anna cemas
"yah, lumayan" jawab Rikka lemas
"apa perlu ke UKS?"
"gak usah, ngeribetin aja"
"uuuh, aku pernah denger tau Ka, katanya kalau kena benturan di kepala nanti jadi bego" ucap Anna dengan semangat
Rikka menatap Anna dalam-dalam, menghela nafas dan kemudian berkata "Bego? Aku? butuh lebih dari bola biar bikin aku bego" sindir Rikka
"buuu" ejek Anna
ya, memang, untuk ukuran anak SMA, Rikka tergolong jenius, sejak kecil ia selalu juara kelas, dia dapat dengan mudahnya menghapal hanya dengan sekali melihat, dia juga diberkati dengan kemampuan logika dan aritmatika yang sangat baik, hanya saja kejeniusannya tidak berlaku untuk ukuran tubuhnya yang hal ini sangat bertolak belakang dengan Anna, Anna hanya gadis biasa, dengan kemampuan otak yang biasa, dan ukuran tubuh yang sedikit di atas rata-rata. yang membuat Rikka yang berjalan di sebelahnya sering dianggap adiknya.
"Eh, Rikka, tunggu dulu" ucap Anna sambil menarik tangan Rikka
"apa sih?"
"Itu, di depan, ada Riza"
"siapa Riza?"
"Haduuuuuh, kamu itu bener-bener ya, cuma pinter di pelajaran aja ya? makanya gaul dong, gaul, jangan cuma baca buku sama baca komik aja"
"ya~ya, jadi siapa Riza?"
"Itu lho, anak kelas kita yang di skors kemaren karena berantem sama geng anak kuliahan"
"oh, terus? dia menang?"
"eh?gatau, habis dia serem, aku takut sama dia"
"hee~~~terus mau ke kelas ga? istirahat udah mau habis lho?nanti gabisa ku ajarin lho"
"nanti deh, tunggu si Riza masuk dulu ke kelas"
Rikka terdiam, berfikir, dan "bukannya kita sekelas ma dia?kalau emang mau nunggu dia masuk, nanti kita gak ke kelas-kelas, gimana sih?"
"eh, iya juga sih, tapi takut"
".....aku jalan duluan deh" ucap Rikka sambil menggandeng tangan Anna
sesampainya di kelas, Rikka mengajarkan Anna tentang pe-er matematika, muali dari cara gampang, hingga cara rumit, dan kemudian berakhir dengan Anna yang menyalin pe-er Rikka karena menyerah tidak mengerti.
"oia" celetuk Anna
"apa?"
"udah tau belom, buat tugas kesenian nanti dibagi per kelompok lho?"
"terus?"
"yah, semoga aja kita gak sekelompok sama Riza ya"
"....jangan ngomong gitu, nanti kejadian lho?"
"eeeh? Rikka jangan ngomong gitu dong!!! kan semua ucapanmu kalau yang kayak gitu biasanya jadi kenyataan"
" ya kamu nya jangan bikin aku ngomong kayak gitu dong"
"emang Rikka gak takut sama dia?"
"hmm,, gak juga, dia mirip sama Rido sih..."
"jangan bandingin dia sama kakakmu dong!!!! Rido kan cakep, putih, tinggi, keren, olahragawan, ngeband, pinter lagi"
"haha, kamu berlebihan muji dia tuh Na, nanti dia kege-eran kalau tahu"
"habis emang kenyataan kan?aku suka banget sama Rido"
"iya, iya, sayangnya kakakku udah punya pacar ya"
"puuuuuh,,,nanti juga dia ngelirik aku kalo aku udah jadi cantik"
"haha, kapan ya kamu jadi cantiknya" canda Rikka
tapi emang bener, ucap Rikka dalam hati, si cowok yang namanya Riza itu, sedikit mirip sama kakak, apa karena badannya sama-sama kayak gorila? (-baca: tinggi)
"Nih Rikka, udah selese kusalin" ucap Anna sambil mengembalikan buku pe-er Rikka
"Hm,,magnum ya satu nanti pas pulang" ucap Rikka sambil memasukkan bukunya ke tas
"iya-iya"
jam istirahatpun selesai setelah Rikka diberikan minyak obat oleh petugas UKS kelas karena Anna ribut memegang kepala Rikka yang jadi memiliki benjol besar setelah kena bola.
pelajaran matematika terasa sangat panjang untuk Anna yang membenci matematika, segala jenis hitungan dia tidak mengerti, sampai akhirnya guru matematika memarahinya dan berkata kalau dia terlalu idiot karena untuk perkalian dan peng-akaran mudah saja masih tidak bisa ia kerjakan,
dan pelajaran matematika pun selesai setelah Anna mulai menangis tersedu-sedu
"cup-cup" hibur Rikka
"nanti malem kita belajar sama-sama di rumahku ya" lanjutnya
Anna yang masih terisak mengangguk perlahan
bel berikutnya berbunyi, dan dimulai lah pelajaran kesenian yang sangat melegakan setelah pelajaran matematika yang sangat berat itu.
"Nah, sesuai sama kesepakatan kita minggu kemarin, untuk tugas kesenian berikutnya dilakukan ber kelompok ya, setiap kelompok harus ada 3 perempuan dan 2 laki-laki"
dan perebutan anak laki-laki pun dimulai seusai guru kesenian menjelaskan hal-hal apa yang mesti dibuat
Rikka dengan tubuhnya yang kecil, saat berdiri untuk "pelelangan" anak laki-laki gagal mendapatkan anak lelaki yang pintar. dan karena tubuhnya juga, dia kemudian mendapatkan kelompok dengan anggota yang paling tidak diinginkan Anna : Riza dan Doni.
"Apa sih?!" Tanya Rikka dengan ketus karena merasa terganggu atas panggilan Anna
"Itu lho, pe-er matematika, kan aku mau nyontek-eh-mau minta di ajarin soal pe-ernya, kan matematika habis istirahat, tadi pagi kan kamu janji mau kasih tau aku" jawab Anna
"eee~h? kenapa gak dari tadi sih?nyusahin amat" hela Rikka
"Ayolah~~nanti aku traktir eskrim deh" bujuknya
"........, tapi jangan yang 3 ribuan ya"
"iya, beres, kubeliin yang harga 5 ribu deh"
"oke"
Rikka dan Anna pun berjalan menuju kelas menyusuri lorong sekolah yang hijau, nyaman dan "BUAKK!" sebuah bola melayang ke kepala Rikka dan menghempaskannya jatuh ke arah kiri, dan membuat Anna yang berada di sebelahnya panik
"Eh, Sori, lw gapapa?" tanya seorang anak cowok yang mendekati mereka berdua
dengan tangan yang masih memegang bagian samping kanan kepalanya Rikka berkata "kayaknya pertanyaanmu itu bisa dijawab dengan ngeliat kepalaku aja deh" ketus
"Eh, Sori" ujarnya sambil mengambil bola "badan lw kecil sih, jadi gak keliatan"
"Ih, gak sopan!" tegur Anna
dengan tangan yang masih mengusap-usap kepalanya, Rikka berkata "ke kelas aja yuk, biar Tuhan yang membalas!"
Rikka berjalan dengan cepat yang kemudian disusul Anna meninggalkan anak cowok yang kesal dengan perkataan Rikka, ya, tubuh Rikka memang kecil untuk anak seumurannya, tingginya tidak mencapai 150cm, tubuhnya kurus ramping, tangan dan kakinya mungil dengan rambut sebahu yang dihiasi pita berwarna merah membuatnya terlihat seperti anak kelas 4 sd, berbeda dengan umurnya yang kini menginjak kelas 2 SMA.
berbeda dengan sahabat Rikka, Anna, dia nampak seperti anak SMA pada umumnya yang suka berdandan, shopping dan segala macam bentuk ke-gaul-an yang dipandang Rikka sebagai sifat yang sangat boros dan mengarah ke kehidupan hedonisme.
"masih sakit?" tanya Anna cemas
"yah, lumayan" jawab Rikka lemas
"apa perlu ke UKS?"
"gak usah, ngeribetin aja"
"uuuh, aku pernah denger tau Ka, katanya kalau kena benturan di kepala nanti jadi bego" ucap Anna dengan semangat
Rikka menatap Anna dalam-dalam, menghela nafas dan kemudian berkata "Bego? Aku? butuh lebih dari bola biar bikin aku bego" sindir Rikka
"buuu" ejek Anna
ya, memang, untuk ukuran anak SMA, Rikka tergolong jenius, sejak kecil ia selalu juara kelas, dia dapat dengan mudahnya menghapal hanya dengan sekali melihat, dia juga diberkati dengan kemampuan logika dan aritmatika yang sangat baik, hanya saja kejeniusannya tidak berlaku untuk ukuran tubuhnya yang hal ini sangat bertolak belakang dengan Anna, Anna hanya gadis biasa, dengan kemampuan otak yang biasa, dan ukuran tubuh yang sedikit di atas rata-rata. yang membuat Rikka yang berjalan di sebelahnya sering dianggap adiknya.
"Eh, Rikka, tunggu dulu" ucap Anna sambil menarik tangan Rikka
"apa sih?"
"Itu, di depan, ada Riza"
"siapa Riza?"
"Haduuuuuh, kamu itu bener-bener ya, cuma pinter di pelajaran aja ya? makanya gaul dong, gaul, jangan cuma baca buku sama baca komik aja"
"ya~ya, jadi siapa Riza?"
"Itu lho, anak kelas kita yang di skors kemaren karena berantem sama geng anak kuliahan"
"oh, terus? dia menang?"
"eh?gatau, habis dia serem, aku takut sama dia"
"hee~~~terus mau ke kelas ga? istirahat udah mau habis lho?nanti gabisa ku ajarin lho"
"nanti deh, tunggu si Riza masuk dulu ke kelas"
Rikka terdiam, berfikir, dan "bukannya kita sekelas ma dia?kalau emang mau nunggu dia masuk, nanti kita gak ke kelas-kelas, gimana sih?"
"eh, iya juga sih, tapi takut"
".....aku jalan duluan deh" ucap Rikka sambil menggandeng tangan Anna
sesampainya di kelas, Rikka mengajarkan Anna tentang pe-er matematika, muali dari cara gampang, hingga cara rumit, dan kemudian berakhir dengan Anna yang menyalin pe-er Rikka karena menyerah tidak mengerti.
"oia" celetuk Anna
"apa?"
"udah tau belom, buat tugas kesenian nanti dibagi per kelompok lho?"
"terus?"
"yah, semoga aja kita gak sekelompok sama Riza ya"
"....jangan ngomong gitu, nanti kejadian lho?"
"eeeh? Rikka jangan ngomong gitu dong!!! kan semua ucapanmu kalau yang kayak gitu biasanya jadi kenyataan"
" ya kamu nya jangan bikin aku ngomong kayak gitu dong"
"emang Rikka gak takut sama dia?"
"hmm,, gak juga, dia mirip sama Rido sih..."
"jangan bandingin dia sama kakakmu dong!!!! Rido kan cakep, putih, tinggi, keren, olahragawan, ngeband, pinter lagi"
"haha, kamu berlebihan muji dia tuh Na, nanti dia kege-eran kalau tahu"
"habis emang kenyataan kan?aku suka banget sama Rido"
"iya, iya, sayangnya kakakku udah punya pacar ya"
"puuuuuh,,,nanti juga dia ngelirik aku kalo aku udah jadi cantik"
"haha, kapan ya kamu jadi cantiknya" canda Rikka
tapi emang bener, ucap Rikka dalam hati, si cowok yang namanya Riza itu, sedikit mirip sama kakak, apa karena badannya sama-sama kayak gorila? (-baca: tinggi)
"Nih Rikka, udah selese kusalin" ucap Anna sambil mengembalikan buku pe-er Rikka
"Hm,,magnum ya satu nanti pas pulang" ucap Rikka sambil memasukkan bukunya ke tas
"iya-iya"
jam istirahatpun selesai setelah Rikka diberikan minyak obat oleh petugas UKS kelas karena Anna ribut memegang kepala Rikka yang jadi memiliki benjol besar setelah kena bola.
pelajaran matematika terasa sangat panjang untuk Anna yang membenci matematika, segala jenis hitungan dia tidak mengerti, sampai akhirnya guru matematika memarahinya dan berkata kalau dia terlalu idiot karena untuk perkalian dan peng-akaran mudah saja masih tidak bisa ia kerjakan,
dan pelajaran matematika pun selesai setelah Anna mulai menangis tersedu-sedu
"cup-cup" hibur Rikka
"nanti malem kita belajar sama-sama di rumahku ya" lanjutnya
Anna yang masih terisak mengangguk perlahan
bel berikutnya berbunyi, dan dimulai lah pelajaran kesenian yang sangat melegakan setelah pelajaran matematika yang sangat berat itu.
"Nah, sesuai sama kesepakatan kita minggu kemarin, untuk tugas kesenian berikutnya dilakukan ber kelompok ya, setiap kelompok harus ada 3 perempuan dan 2 laki-laki"
dan perebutan anak laki-laki pun dimulai seusai guru kesenian menjelaskan hal-hal apa yang mesti dibuat
Rikka dengan tubuhnya yang kecil, saat berdiri untuk "pelelangan" anak laki-laki gagal mendapatkan anak lelaki yang pintar. dan karena tubuhnya juga, dia kemudian mendapatkan kelompok dengan anggota yang paling tidak diinginkan Anna : Riza dan Doni.
Subscribe to:
Posts (Atom)