Tuesday, 19 June 2012

Flower's drop, prologue

"Rikka!! Rikka, kamu disini?" panggil Anna sambil setengah berlari mencari Rikka di pojok ruang perpustakaan sekolah, tempat Rikka biasa duduk sambil membaca novel misteri kesukaannya.

"Apa sih?!" Tanya Rikka dengan ketus karena merasa terganggu atas panggilan Anna
"Itu lho, pe-er matematika, kan aku mau nyontek-eh-mau minta di ajarin soal pe-ernya, kan matematika habis istirahat, tadi pagi kan kamu janji mau kasih tau aku" jawab Anna
"eee~h? kenapa gak dari tadi sih?nyusahin amat" hela Rikka
"Ayolah~~nanti aku traktir eskrim deh" bujuknya
"........, tapi jangan yang 3 ribuan ya"
"iya, beres, kubeliin yang harga 5 ribu deh"
"oke"

Rikka dan Anna pun berjalan menuju kelas menyusuri lorong sekolah yang hijau, nyaman dan "BUAKK!" sebuah bola melayang ke kepala Rikka dan menghempaskannya jatuh ke arah kiri, dan membuat Anna yang berada di sebelahnya panik

"Eh, Sori, lw gapapa?" tanya seorang anak cowok yang mendekati mereka berdua


dengan tangan yang masih memegang bagian samping kanan kepalanya Rikka berkata "kayaknya pertanyaanmu itu bisa dijawab dengan ngeliat kepalaku aja deh" ketus

"Eh, Sori" ujarnya sambil mengambil bola "badan lw kecil sih, jadi gak keliatan"

"Ih, gak sopan!" tegur Anna
dengan tangan yang masih mengusap-usap kepalanya, Rikka berkata "ke kelas aja yuk, biar Tuhan yang membalas!"

Rikka berjalan dengan cepat yang kemudian disusul Anna meninggalkan anak cowok yang kesal dengan perkataan Rikka, ya, tubuh Rikka memang kecil untuk anak seumurannya, tingginya tidak mencapai 150cm, tubuhnya kurus ramping, tangan dan kakinya mungil dengan rambut sebahu yang dihiasi pita berwarna merah membuatnya terlihat seperti anak kelas 4 sd, berbeda dengan umurnya yang kini menginjak kelas 2 SMA.

berbeda dengan sahabat Rikka, Anna, dia nampak seperti anak SMA pada umumnya yang suka berdandan, shopping dan segala macam bentuk ke-gaul-an yang dipandang Rikka sebagai sifat yang sangat boros dan mengarah ke kehidupan hedonisme.

"masih sakit?" tanya Anna cemas
"yah, lumayan" jawab Rikka lemas
"apa perlu ke UKS?"
"gak usah, ngeribetin aja"
"uuuh, aku pernah denger tau Ka, katanya kalau kena benturan di kepala nanti jadi bego" ucap Anna dengan semangat

Rikka menatap Anna dalam-dalam, menghela nafas dan kemudian berkata "Bego? Aku? butuh lebih dari bola biar bikin aku bego" sindir Rikka
"buuu" ejek Anna

ya, memang, untuk ukuran anak SMA, Rikka tergolong jenius, sejak kecil ia selalu juara kelas, dia dapat dengan mudahnya menghapal hanya dengan sekali melihat, dia juga diberkati dengan kemampuan logika dan aritmatika yang sangat baik, hanya saja kejeniusannya tidak berlaku untuk ukuran tubuhnya yang hal ini sangat bertolak belakang dengan Anna, Anna hanya gadis biasa, dengan kemampuan otak yang biasa, dan ukuran tubuh yang sedikit di atas rata-rata. yang membuat Rikka yang berjalan di sebelahnya sering dianggap adiknya.

"Eh, Rikka, tunggu dulu" ucap Anna sambil menarik tangan Rikka
"apa sih?"
"Itu, di depan, ada Riza"
"siapa Riza?"
"Haduuuuuh, kamu itu bener-bener ya, cuma pinter di pelajaran aja ya? makanya gaul dong, gaul, jangan cuma baca buku sama baca komik aja"
"ya~ya, jadi siapa Riza?"
"Itu lho, anak kelas kita yang di skors kemaren karena berantem sama geng anak kuliahan"
"oh, terus? dia menang?"
"eh?gatau, habis dia serem, aku takut sama dia"
"hee~~~terus mau ke kelas ga? istirahat udah mau habis lho?nanti gabisa ku ajarin lho"
"nanti deh, tunggu si Riza masuk dulu ke kelas"

Rikka terdiam, berfikir, dan "bukannya kita sekelas ma dia?kalau emang mau nunggu dia masuk, nanti kita gak ke kelas-kelas, gimana sih?"

"eh, iya juga sih, tapi takut"

".....aku jalan duluan deh" ucap Rikka sambil menggandeng tangan Anna

sesampainya di kelas, Rikka mengajarkan Anna tentang pe-er matematika, muali dari cara gampang, hingga cara rumit, dan kemudian berakhir dengan Anna yang menyalin pe-er Rikka karena menyerah tidak mengerti.

"oia" celetuk Anna
"apa?"
"udah tau belom, buat tugas kesenian nanti dibagi per kelompok lho?"
"terus?"
"yah, semoga aja kita gak sekelompok sama Riza ya"
"....jangan ngomong gitu, nanti kejadian lho?"

"eeeh? Rikka jangan ngomong gitu dong!!! kan semua ucapanmu kalau yang kayak gitu biasanya jadi kenyataan"
" ya kamu nya jangan bikin aku ngomong kayak gitu dong"
"emang Rikka gak takut sama dia?"
"hmm,, gak juga, dia mirip sama Rido sih..."
"jangan bandingin dia sama kakakmu dong!!!! Rido kan cakep, putih, tinggi, keren, olahragawan, ngeband, pinter lagi"
"haha, kamu berlebihan muji dia tuh Na, nanti dia kege-eran kalau tahu"
"habis emang kenyataan kan?aku suka banget sama Rido"
"iya, iya, sayangnya kakakku udah punya pacar ya"
"puuuuuh,,,nanti juga dia ngelirik aku kalo aku udah jadi cantik"
"haha, kapan ya kamu jadi cantiknya" canda Rikka

tapi emang bener, ucap Rikka dalam hati, si cowok yang namanya Riza itu, sedikit mirip sama kakak, apa karena badannya sama-sama kayak gorila? (-baca: tinggi)

"Nih Rikka, udah selese kusalin" ucap Anna sambil mengembalikan buku pe-er Rikka
"Hm,,magnum ya satu nanti pas pulang" ucap Rikka sambil memasukkan bukunya ke tas
"iya-iya"

jam istirahatpun selesai setelah Rikka diberikan minyak obat oleh petugas UKS kelas karena Anna ribut memegang kepala Rikka yang jadi memiliki benjol besar setelah kena bola.

pelajaran matematika terasa sangat panjang untuk Anna yang membenci matematika, segala jenis hitungan dia tidak mengerti, sampai akhirnya guru matematika memarahinya dan berkata kalau dia terlalu idiot karena untuk perkalian dan peng-akaran mudah saja masih tidak bisa ia kerjakan,

dan pelajaran matematika pun selesai setelah Anna mulai menangis tersedu-sedu

"cup-cup" hibur Rikka
"nanti malem kita belajar sama-sama di rumahku ya" lanjutnya
Anna yang masih terisak mengangguk perlahan

bel berikutnya berbunyi, dan dimulai lah pelajaran kesenian yang sangat melegakan setelah pelajaran matematika yang sangat berat itu.

"Nah, sesuai sama kesepakatan kita minggu kemarin, untuk tugas kesenian berikutnya dilakukan ber kelompok ya, setiap kelompok harus ada 3 perempuan dan 2 laki-laki"

dan perebutan anak laki-laki pun dimulai seusai guru kesenian menjelaskan hal-hal apa yang mesti dibuat
Rikka dengan tubuhnya yang kecil, saat berdiri untuk "pelelangan" anak laki-laki gagal mendapatkan anak lelaki yang pintar. dan karena tubuhnya juga, dia kemudian mendapatkan kelompok dengan anggota yang paling tidak diinginkan Anna : Riza dan Doni.

No comments:

Post a Comment